
Bangli · Bali Tengah
Desa Penglipuran
Penglipuran adalah desa tradisional yang rapi di Bangli, terkenal dengan satu jalan lurusnya, gerbang bambu dan bata yang seragam, serta hutan bambu yang dilindungi.
Penglipuran adalah desa tradisional yang rapi di Bangli, terkenal dengan satu jalan lurusnya, gerbang bambu dan bata yang seragam, serta hutan bambu yang dilindungi. Tempat yang tenang untuk melihat bagaimana komunitas Bali menata lahannya sesuai keyakinan.
Sejarah
Penglipuran berada sekitar lima kilometer di utara kota Bangli, di ketinggian 500 sampai 600 meter di atas permukaan laut, jadi udaranya sejuk. Sebagian besar warganya berasal dari Bayung Gede, yang diberi tempat peristirahatan oleh Kerajaan Bangli yang kemudian berkembang menjadi desa sekarang. Namanya diperkirakan berasal dari ungkapan yang berarti mengingat tanah leluhur, cocok untuk desa yang menjaga masa lalunya begitu nyata.
Hutan bambunya seluas sekitar 38 hektar dan dirawat oleh komunitas. Warga percaya leluhur merekalah yang menanamnya, dan sebagian hasilnya membantu membiayai perawatan pura. Desa ini menerima penghargaan lingkungan nasional Kalpataru tahun 1995 karena melindunginya. Desanya cukup kecil, dengan kurang dari seribu penduduk tercatat di awal 2010-an, yang menjelaskan mengapa kehidupan sehari-hari di sini begitu erat dijalani bersama.
Makna dan budaya
Desa ini mengikuti tata ruang Tri Mandala. Pura paling suci berada di ujung utara, ke arah gunung, pekarangan keluarga mengisi bagian tengah, dan kuburan serta pura dalem berada di ujung selatan. Rumah-rumah menghadap Gunung Agung di sepanjang poros itu. Rumah sebagian besar dibangun dari bambu dan bata, dan setiap pekarangan punya pelinggih keluarga kecil yang disebut sanggah, serta gerbang menuju halaman.
Aturan komunitas memadukan adat tertulis, disebut awig, dengan adat tidak tertulis, disebut drestha. Poligami dilarang, dan desa ini menekankan kebersihan bersama serta keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan. Mobil tidak boleh masuk ke jalan utama, sehingga jalannya tetap tenang dan nyaman untuk berjalan kaki. Saat Galungan, penjor bambu yang tinggi berjajar di sepanjang jalan, dan seluruh desa bersama-sama menghaturkan sesajen, waktu yang sangat pas untuk melihat kekompakannya.
Yang bisa dilihat
- Jalan utama dengan gerbang angkul-angkul yang seragam
- Bale banjar, balai pertemuan warga
- Hutan bambu di sisi barat
- Pekarangan keluarga kecil, tempat warga kadang menjual jajanan dan kerajinan
Perlu diketahui
- Parkir di luar dan masuk dengan berjalan kaki; kendaraan tidak boleh masuk jalan utama
- Berpakaian sopan dan tetap di area umum kecuali diundang masuk ke rumah
- Beli jajanan atau suvenir dari kios keluarga untuk mendukung warga
- Kalau bertemu upacara, saksikan dengan sopan dari kejauhan
Info singkat
- Tiket IDR 50.000 dewasa, IDR 30.000 anak untuk wisatawan mancanegara (berdasarkan laporan; konfirmasi saat tiba)
- Buka Sekitar 08:00 sampai 18:00 setiap hari
- Waktu yang dibutuhkan 1 sampai 1,5 jam
- Waktu terbaik Pagi hari, saat lebih sejuk dan sepi
- Jarak sekitar 1,5 sampai 2 jam dari Bali selatan
Lokasi
Buka di Google MapsHarga dicek Oktober 2026 dan bisa berubah.
Destinasi lainnya
Terus menjelajah
Siap menjelajahi Bali?
Beri tahu kami tanggal dan tempat Anda menginap. Kami atur harinya sesuai keinginan Anda.



